“KEHIDUPAN WARGA PAPUA MULAI TIDAK AMAN”
Dikirim oleh : Wawan Pada tanggal : 08-07-2007, 22:22
nasional /
represivitas aparat /
news report
Pasca Konfrensi Besar Masyarakat Adat Papua dan Aksi Mahasiswa Papua
Pasca Konfrensi Besar Masyarakat Adat Papua dan Aksi Mahasiswa Papua, Sweeping dan Terror Warnai Hari-hari Warga Papua di seluruh Indonesia
Jayapura Kabarpapua.com - Pembentangan Bintang Kejora oleh kelompok tari Sampari dari Manokwari pada konferensi lima tahunan Dewan Adat Papua (DAP) di GOR Cenderawasih Papua pada Selasa (3/7), justru bermuara pada sweeping dan terror terhadap rakyat Papua oleh aparat polisi dan militer Indonesia.
Dari Jayapura dilaporkan, beberapa asrama mahasiswa terus didatangi intelijen Indonesia. Bahkan beberapa polisi nekat masuk langsung ke kamar di beberapa asrama mahasiswa. “Kami mau periksa bintang kejora,” kata salah satu mahasiswa Papua di Jayapura menirukan tuturan polisi.
Hingga berita ini diturunkan, dari Jayapura dilaporkan para aktivis mahasiswa dan masyarakat Papua masih berada dalam ketakutan. “Jangankan malam hari, pada siang hari saja kami takut jalan sendiri. Kami takut diculik, maka kami jalan dua-dua atau tiga-tiga orang,” sumber di atas.
Kontributor www.kabarpapua.com wilayah Jayapura melaporkan, pada Jumat ( 6/7) kemarin, militer Indonesia mengumpulkan milisi dari sejumlah komponen masyarakat di wilayah Papua. Milisi yang dibentuk Indonesia itu sekitar 500 orang. Mereka berasal dari sejumlah komponen, yakni, pejuang Trikora, tokoh /pemuda barisan merah putih, FKKPI, tokoh adat (Toga), tokoh masyarakat ( Tomas), tokoh pemuda/perempuan, anggota LVRI, Pemuda Pancasila, Pemuda Panca Marga (PPM) dan Pramuka.
Dikabarkan, mereka menggelar pertemuan dengan Danrem 172/PWY Kolonel Kav Burhanuddin Siagian di Makodim 1701/Jayapura. Militer Indonesia juga mengklaim, pertemuan tertsebut dihadiri juga seorang mantan Panglima TPN/OPM Paulus Kaladana. Padahal menurut warga Paulus Kaladana adalah tokoh masyarakat yang setiap hari berkomunikasi dengan aparat militer di Indonesia di Papua. “Paulus itu tidak pernah keluar masuk hutan. Dia itu dari dulu di ada di Jayapura. Dia justru lebih dekat dengan militer. Kadang dia dipanggil oleh Kolonel Burhanuddin Siagian,” kata tentangga Paulus yang dihubungi kontributor kabarpapua Jayapura.
Pada tanggal 7 Juli, Domi dari Numbay melalui millis Komunitas Papua melaporkan, secara resmi Polda Papua memanggil 11 orang kaitannya dengan pembentangan bintang kejora melalui tari dari kelompok teri sampari. Kesebelum orang yang di panggil adalah (1) Forkorus Yaboisembut ( Panitia/Ketua Terpilih DAP), (2) Alfrida Faidiban, (3) Leo Imbiri ( Sekjen DAP), (4) Asmira Alhamid, (5), Astriks Rumbonde, (6) Yakob Kasimat, (7), Wilem Rumasep, (8) Taha Alhamid (sekjen PDP). Sementara, tiga orang lainnya yang hingga berita ini ditulis belum memenuhi panggilan adalah (1) Tom Beanal ( Ketua PDP), (3) Willy Mandowen ( Mediator PDP), dan Benny Yerisitow.
Kata Domi, ini pemanggilan ini merupakan bagian dari pembunuhan karakter ( teror pisikologis) sehingga di harapkan kepada anak bangsa segera rapatkan barisan untuk menegakkan demokrasi di tanah Papua
Sementara, dari Wamena dilaporkan hal serupa terjadi di beberapa rumah anggota DAP. Menurut informasi itu, beberapa orang mendatangi rumah-rumah para tokoh adat. “Saya tidak tahu. Mungkin mereka mau periksa bendera kita (Bintang Kejora—red). Tapi mereka tidak bicara apa-apa. Mereka hanya diam baru pulang,” kata salah satu teman yang menyaksikan peristiwa tersebut.
Dari Nabire, dilaporkan bahwa sekitar pukul 16.00 WIB WIT tanggal 6 Juli aparat keamanan (militer) melakukan sweeping terhadap pakaian di pasar. “Mereka keliling pasar tanpa bicara. Kalau mereka lihat ada warga yang pakai pakaian tentara (pakaian militer) langsung dibuka di depan umum. Kami tidak tahu kenapa. Tapi mereka menahan semua orang yang memakai pakaian militer atau polisi. Mama di pasar misalnya, ada yang pergi dengan telanjang dada. Biasanya tidak begitu. Mungkin karena DAP dorang kasih bentang kita punya bendera jadi,” demikian kata salah satu mahasiswa dari Nabire dengan meminta identitasnnya dirahasiakan.
Mahasiswa Papua Yogyakarta dan Jakarta Tidak Aman
Aksi-aksi mahasiswa Papua se Jawa Bali khusunya aksi di Yogyakarta dan aksi di Jakarta oleh Koalisi Rakyat Papua (KRP) jelang kedatangan kongresman Amerika Serikat (AS) Eni Faleomavaega, bermaura pada sweeping dan terror secara sewenang-wenang. Aksi KRP di Yogyakarta dan Jakarta beberapa waktu lalu itu mengecam sikap pemerintah Republik Indonesia yang melarang kongresman Amerika Serikat (AS) Eni Faleomavaega untuk berkunjung ke Papua.
Dari Yogyakarta juga di laporkan, beberapa asrama mahasiswa Papua di datangi beberapa orang tidak dikenal. Beberapa mobil kaca hitam juga memarkir di depan asrama. Menurut salah satu penghuni asrama mahasiswa Papua, mobil-mobil itu tidak seperti biasanya. “Ada orang dalam mobil tetapi mereka tidak keluar dari mobil bahkan berjam-jam mereka berada di depan asrama,” katanya.
Terror itu terjadi setelah pada 4 juli 2007 aksi mahasiswa Papua dihadang oleh aparat keamanan. Dilaporkan, setelah pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mengatakan bahwa aksi separatisme di DIY tidak akan dibiarkan. “DPR DIY memerintahkan kepada tentara dan polisi untuk segera mengambil tindakan yang tegas agar di DIY tidak lagi ada aksi-aksi separatisme”, kata salah satu mahasiswa dari Yogyakarta mengutip pernyataan DPRD.
”Pada hari sabtu tangggal 07 Juli 2007 DPRD DIY menghimbau kepada warga Yogyakarta bahwa aksi separatisme harus disikapi oleh seluruh warga DIY dan mengancam akan diusirnya para pelaku-pelaku aksi separatisme (Mahasiswa Papua) dari Yogyakarta. Selain itu, aksi pembakaran bendera Bintang Kejora di Solo ada intruksi-intruksi langsung yang dikeluarkan oleh oknum tertentu untuk memhambat aksi yang merupakan bagian dari demokrasi ini,” kata beberapa mahasiswa Papua di Yogyakarta. “Setelah aksi penolakan pembakaran bendera Papua Barat Bintang Kejora di Solo, pada sore harinya aparat gabungan baik tentara, polisi, dan brimob melakukan sweeping terhadap mahasiswa yang memakai atribut OPM, seperti gelang, noken, (tas), pakaian dan lain-lain.
Dilaporkan, Front Pembela Islam (FPI) dan Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) juga mengancam seluruh kawan-kawan gerakan mahasiswa Papua. Katanya, FPI dan FAKI akan mengejar dan menuntas hingga ke jaringan OPM. “ Situasi terakhir di DIY sangat urgen dan kami menghimbau agar semua element harus menyikapi atas sikap orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” kata salah satu aktivis mahasiswa Papua di Yogyakarta.
Sementara dari Jakarta dilaporkan, sebelum aksi pengecaman larangan pemerintah RI untuk kongresman AS ke Papua dilakukan, beberapa asrama mahasiswa didatangi orang tak kenal. “Mereka berani sekali. Di rumah orang langusng masuk tanpa permisi. Mereka langsung tanya-tanya, bagaimana dengan aksi kalian. Apakah kalian akan lakukan aksi, “ kata salah satu mahasiswa Papua dari Jakarta. Seperti juga ditulis detik.com edisi 5 Juli 2007, Asrama Cenderawasih milik warga Papua di Tanah Abang Jakarta juga disweeping oleh polisi. Dikabarkan polisi langsung masuk ke kamar-kamar dan mencari bendera Bintang Kejora.
Sementara itu, Dari Manodo juga dilaporkan ada penangkapan terhadap tiga mahasiswa, tetapi ketika berita ini diturunkan informasi tersebut masih belum jelas. ***
<< kembali ke halaman berita
|